SELAMAT DATANG DI BLOG SDN CIKAMPEK UTARA 3 KECAMATAN KOTABARU KABUPATEN KARAWANG
Powered by Blogger.

rss

Wednesday, February 22, 2012

PUISI TETANGGA SEBELAH (CASE STUDY)


Oleh : DADAN WAHIDIN, S.Pd
SDN CIKAMPEK UTARA III


Pembelajaran pada Mata pelajaran Bahasa Indonesia sebetulnya pelajaran yang cukup mudah untuk dapat dipahami siswa, namun pada mata pelajaran bahasa indonesia sendiri perlu dilakukan inovasi-inovasi dalam kegiatan pembelajaran yang seharusnya melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa akan merasa lebih bersemangat dalam memahami, mempelajari dan menerapkan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari agar tidak terjadi kebosananan akibat pembelajaran yang monoton.
Salah satu pengalaman menarik, ketika saya mengajarkan mata pelajaran bahasa indonesia terjadi pada siswa kelas VI. Hal ini terjadi ketika saya memberikan materi pembelajaran tentang bagaimana membuat parafrase. Pada awalnya saya pikir pembelajaran ini akan sangat mudah untuk diajarkan kepada siswa karena memang pembelajaran awal mengenai parafrase ini berkaitan dengan kemampuan menuliskan puisi yang tentunya tidak asing lagi bagi siswa karena memang di kelas sebelumnya yaitu di kelas 4 dan 5 materi tentang puisi telah banyak disampaikan.
Sebelum memberikan materi mengenai parafrase ini, satu hari sebelumnya siswa telah ditugaskan untuk membuat puisi sendiri dirumah karena untuk mata pelajaran bahasa indonesia akan dipelajari kembali pada hari berikutnya atau esok hari. Sayapun bersiap merancang perencanaan pembelajaran yang akan disampaikan untuk esok hari, dimana secara garis besar rancangan pembelajarannya yaitu ; guru memberikan penjelasan tentang parafrase kemudian siswa akan dicoba membuat parafrase dari puisi yang telah dibuat sendiri pada hari sebelumya untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan.
Tiba saatnya menerapkan perencanaan yang telah dibuat semalam. Saat itu suasana begitu cerah, Tepat setelah bel sekolah berbunyi pertanda masuk untuk memulai pelajaran, dengan segera saya mempersiapkan semua yang telah dipersiapkan sebelumnya dan bergegas menuju ruangan kelas. Saya ketuk pintu dan Mengucapkan Salam pada siswa : “Assalamualaikum” seraya memberikan senyuman pada siswa, sambil berjalan ke tempat meja tempat bisa saya menyimpan semua perlengkapan. Siswapun menjawab salam yang aku lontarkan : “Waalikum salam”. Seperti kebiasaan sebelumnya Krisna seorang ketua kelas dengan sigap memberikan komando dan memimpin teman-temanya untuk berdoa bersama dan mempersiapkan teman-temannya untuk bersiap menerima materi yang akan disampaikan. Awal kegiatan saya mulai menyapa dan mengecek kehadiran siswa, dan sedikit memberikan motivasi-motivasi kecil agar siswa semangat dalam belajar.
Tiba saat penyampaian materi, sayapun menjelaskan apa itu parafrase hingga pada akhir penjelasan  memastikan untuk menguji pemahaman siswa,  dengan melakukan tanya jawab mengenai materi yang telah disampaikan. Saya memutuskan untuk menunjuk siswa secara acak ; “Coba Fajar apa yang dimaksud dengan parafrase?”. Fajarpun menjawab : “Prafarase adalah mengubah puisi kedalam bentuk cerita”. Jawaban yang sangat mantap dan meyakinkan fajar lontarkan. Namun, sebagai pertimbangan apakah siswa yang lain memahami pelajaran ini, saya menunjuk sari karena dari pengamatan, siswa tersebut terlihat kurang fokus pada pembelajaran kali ini. Kemudian pertanyaan yang sama saya tanyakan pada sari, namun Alhamdulillah, ternyata siswa ini dapat menjawab dengan tepat seperti apa yang seharusnya. Hingga Akhirnya pada suatu kesimpulan bahwa untuk pemahaman konsep tentang apa itu parafrase ini bisa dipahami oleh siswa dengan baik.
Pembelajaran dilanjutkan dengan pembahasan tugas pada hari sebelumnya yang akan digunakan untuk bahan belajar siswa ; “Anak-anak, kemarin bapak telah menugaskan kalian untuk membuat puisi. Nah, sekarang kita akan coba merubah puisi itu menjadi sebuah parafrase”. Namun, tanda-tanda yang aneh terlihat pada sebagian besar siswa. Mereka terlihat gusar dan cemas. Sayapun merasa curiga dengan apa yang terjadi, dan memprediksi akan ada banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas.
“Coba, siapa yang sudah selesai mengerjakan tugas kemarin acungkan tangan?” tanya saya. Benar saja perkiraan saya, diantara 30 orang siswa hanya 15 orang yang selesai mengerjakan tugas yang artinya hanya setengah dari dari jumlah siswa keseluruhan. Memang timbul sedikit kesal dan ingin memberikan hukuman kepada siswa yang tidak mengerjakan. Namun saya mencoba bersabar dan berusaha menanyakan apa alasan sampai mereka tidak mengerjakan tugas tersebut. Sopian, salah satu siswapun menjawab “Pak, kalau buat puisi sendiri pusing kata-katanya, apalagi tugasnya Cuma sehari saja”. menimbul pertanyaan dalam hati saya “bagaimana ini? hal ini akan menghambat dalam pembelajaran kali ini, berapa banyak waktu yang akan terbuang jika mereka memulai  dari awal untuk membuat puisi. apa yang harus saya lakukan?”.
Saya terdiam sejenak selama beberapa detik, namun sedikit titik terang saya dapatkan. sayup-sayup terdengar celotehan nyanyian anak yang dinyanyikan oleh anak-anak diluar kelas yang sedang menunggu giliran untuk masuk bergantian ke kelas sebelah untuk belajar. Hal tersebut Memberikan inspirasi untuk mencoba mengganti puisi yang seharusnya dibuat sendiri pada hari sebelumnya dengan lagu-lagu anak untuk pembelajaran membuat parafrase ini, karena jika memutuskan untuk melanjutkan tugas untuk membuat puisi sendiri akan banyak waktu yang akan terbuang dan selain itu dalam bait-bait lagu sendiri sebenarnya serupa atau sama seperti halnya bentuk puisi. sayapun menyakini setidaknya satu, dua atau bahkan lebih nyanyian anak yang diketahui oleh siswa.
Masalah lain juga timbul. Bagaimana dengan anak yang sudah membuat puisi sendiri?. saya memutuskan untuk memberikan pilihan khusus pada anak yang telah menyelesaikan puisi sendiri yaitu dengan memberikan pilihan, diperbolehkan membuat parafrase dari puisi yang telah dibuat sendiri atau mengganti dengan lagu anak-anak yang mereka tahu.
Akhirnya pembelajaran berlangsung cukup lancar. Sesekali saya dengar beberapa siswa menyanyikan lagu-lagu anak yang mereka hapal sambil menuliskan dalam buku catatan mereka masing-masing dan mereka ubah kedalam bentuk parafrase. Hingga waktu pembelajaran berakhir dan materi yang ditugaskan selesai tepat pada waktunya kemudian saya kumpulkan hasil belajar siswa seraya mengakhiri mata pelajaran kali ini untuk jam istirahat pertama.
Selama waktu istirahat, Saya mencoba melihat, membaca, mengkaji dan mengevaluasi apakah materi yang disampaikan dapat dipahami siswa dengan baik. Ternyata materi yang disampaikan dapat dengan baik dipahami oleh siswa. Terbukti dengan hampir semua siswa dapat menyelesaikan tugas dengan benar. Bahkan didapatkan hasil yang cukup memuaskan. Dari beberapa lagu anak yang dijadikan contoh sebagai pengganti tugas puisi karya sendiri untuk  dijadikan sebuah parafrase, dari satu lagu saja dapat mengasilkan macam cerita-cerita yang beraneka ragam dengan ide kreatif masing-masing siswa. Hal ini, Mungkin akan menjadikan bahan referensi kedepan khususnya untuk  saya sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan pembelajaran selanjutnya.
Pertanyaan yang belum terjawab adalah apakah dengan mengalihkan tugas dan membiarkan siswa yang tidak mengerjakan tugas hari sebelumnya tanpa sebuah punishment akan berdampak pada pembelajaran-pembelajaran selanjutnya? Semoga saja tidak berdampak negatif pada siswa.

No comments:

Post a Comment

 
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA, SEMOGA BERMANFAAT, MOHON KRITIK DAN SARANNYA

Follow by Email

Followers